Sunday, 4 November 2012

Tanah sebagai Penopang Kehidupan



Tanpa tanah, kehidupan yang kita ketahui tidak mungkin ada. Tanah merupakan sumber utama bahan makanan yang kita makan dan serat yang kita gunakan, seperti katun dan kayu. Tanah memainkan peran kritis dalam memelihara atau menjaga kualitas udara, menyimpan air dan bahan makanan bagi tumbuhan, serta menyaring bahan pencemar air permukaan.
Lapisan tipis tanah di atas permukaan kerak Bumi merupakan suatu sumberdaya yang sangat lemah. Hilang karena erosi, rusak karena praktek-praktek pertanian yang jelek seperti terlalu banyak gembala, kehilangan kesuburan tanah, terumpulnya garam-garam akibat praktek irigasi yang jelek, dan pencemaran dari bahan beracun mengancam sumberdaya tanah kita.
Seluruh sistem Bumi berinteraksi di dalam tanah, yang tersusun dari: materi organik tak terlarut yang dihasilkan oleh pelapukan dan penghancuran batuan, mineral, dan sedimen; bahan makanan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan; bermacam-macam materi organik; organisme -- baik hidup maupun mati; udara dan gas-gas lain serta air. Ahli ilmu tanah menggunakan penampang vertikal atau profil tanah untuk mempelajarinya. Dalam penyelidikan tanah, anda akan mengumpulkan suatu inti tanah (bagian atas beberapa inci dari suatu profil ), dengan demikian, anda dapat menguji dan menganalisisnya sebagaimana yang diinginkan oleh ahli ilmu tanah.
Berdasarkan klasifikasi tanah, terdapat 12 macam tanah utama. Enam di antaranya meliputi: tanah Prairie, Forest, Tropical, Organic, Dessert, dan Tundra yang masing-masing memiliki tipe bentanglahan dan lingkungan dimana tanah tersebut terbentuk. Ahli ilmu tanah mengelompokkan tanah berdasarkan ciri-cirinya dan menamakannya sesuai dengan ciri-cirinya. Tanah Dessert misalnya, disebut sebagai Aridosols.
Tanah Prairie (Mollisols) adalah salah satu dari tanah pertanian yang penting dan produktif di dunia. Umumnya terbentuk di daerah berlintang menengah. Tanah ini terbentuk pada lingkungan padang rumput, memiliki lapisan (horison) permukaan gelap dan kaya akan mineral-mineral sepanjang profil tanah.

9 MITOS MAKLUK TERUNIK

9 Mahluk Mitologi Asli Indonesia 
@INIUNIK Banyak cerita yang tidak masuk akal yang sering kita dengar tentang mahluk-mahluk aneh yang pernah ada di negara kita ini .. dan tidak sedikit betuk dari mahluk-mahluk itu digambarkan sesuai dengan aslinya .. ada juga beberapa diantaranya di jadikan sebagai simbol suatu kota atau suatu acara-acara ritual rakyat ... Nah ... mungkin kita terkadang tidak percaya dengan mahluk-mahluk seperti itu... tapi kenyataannya memang mahluk itu mungkin pernah ada sehingga dapat di gambarkan dan diceritakan secara turun temurun kepada masyarakat khususnya indonesia .. inilah beberapa gambaran mahluk mitologi yang pernah ada di Indonesia.

1. Orang Pendek

Orang Pendek adalah hewan kriptid asal Pulau Sumatera dan Telah dikenal Sejak 100 Tahun lalu oleh penghuni Hutan, penduduk, kolonis belanda dan ilmuwan. Penelitian menyebutkan bahwa Orang pendek adalah primata BERJALAN Yang memiliki Sekitar 80 cm dan 150 cm.




7 Mitos di Indonesia dan Logika Masuk Akalnya

7 Mitos di Indonesia dan Logika Masuk Akalnya

Mitos dipercaya sebagai ajaran nenek moyang tentang apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak tertimpa daerah. Di kota – kota besar, mitos sudah diangga sebagai isapan jempol belaka. Tetapi di pedesaan masih banyak yang mempercayai mitos walaupun secara logika tidak masuk akal. Berikut penjelasan masuk akal 7 mitos terpopuler di Indonesia.
1. Kalau malam tiba dilarang berdiri di bawah pohon agar tidak dibius setan
Seseorang bisa saja pingsan saat berada di bawah pohon besar di malam hari. Ke

I. IDENTIFIKASI PROFIL TANAH


Persebaran tanah di permukaan bumi di pengaruhi oleh factor-faktor pembentuk tanah, sehingga menghasilkan jenis tanah yang bervariasi antar satu wilayah dengan wilayah yang lain. Iklim, topografi, bahan induk, organisme dan wakt bekerja bersama-sama menghasilkan berbagai jenis tanah yang dapat kita kenali saat ini.

Pengenalan tentang tanah dapat dilakukan terlebih dahulu dengan mengenal “morfologi tanah”.Morfologi tanah bukanlah suatu ilmu namun morfologi tanah merupakan cara yang digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah tentang tanah.. Morfologi tanah menguraikan mengenai kenampakan-kenampakan, ciri-ciri dan sifat-sifat umum yang diperlihatkan sesuatu profil tanah. Nilai pelukisan tanah dipengaruhi oleh pemilihan tempat kedudukan profil tanah yang harus bebas dari berbagai pengaruh, sehingga menjadi lengkap dan jelas. Uraian yang obyektif tentang profil tanah yang melandasi klasifikasi dan pemetaan tanah.

Mempelajari morfologi tanah akan memberikan fakta tentang genesa tanah, yaitu proses pelapukan dan perkembangannya, serta ciri-ciri tertentu hasil pengaruh berbagai faktor pembentuk tanah. Penentuan jenis tanah seringkali mendasarkan pada ciri-ciri tertentu yang terdapat pada horizon hasil dari pengaruh iklim, bahan induk atau faktor tanah yang lain.

Definisi Tanah



1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)
Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)
Kata Edaphos = bahan tanah subur.
Tanah adalah media tumbuh tanaman

Perbedaan Pedologis dan Edaphologis
1. Kajian Pedologis:
Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.
Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

2. Kajian Edaphologis:
Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.
Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi, Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

Paduan antara Pedologis dan Edaphologis:
Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.